Category Archives: 4Life – Tuberkulosis TBC | Obat TBC

Merawat Penderita TBC

Setelah dua tulisan sebelumnya kita membahas tentang gejala dan penyebaran penyakit TBC, pada kali ini saya akan menulis tentang bagaimana merawat mereka yang sedang menderita infeksi bakteri tuberculossis ini, baik yang menimpa anggota keluarga maupun diri sendiri. Sebagaimana penyakit lain pada umumnya, perawatan yang efektif adalah dengan banyak-banyak beristirahat.

Makna ‘istirahat’ di sini jangan hanya disempitkan pada fisik saja, melainkan juga istirahat pikiran dan jiwa. Biar bagaimanapun, penyakit juga disebabkan karena faktor psikologis, sedangkan faktor biologis hanya berperan sedikit saja. Untuk memaksimalkan kesembuhan, maka pikiran dan jiwa harus ‘sehat’ terlebih dahulu.

sistem imun bibit penyakit 300x238 Merawat Penderita TBC Perasaan positif (positive feeling) adalah awal dari kesembuhan. Dan sebaliknya, mereka yang secara fisiknya sehat namun memiliki perasaan negatif (negative feeling) seperti dendam, cemas, amarah, benci, lambat laun akan menciptakan penyakitnya sendiri.

Bakteri yang hinggap di dalam paru-paru barangkali telah berhasil membuat lubang-lubang besar sehingga mulai mengganggu pernafasan penderitanya. Mereka yang sudah terkena penyakit TBC akut harus dirawat di rumah sakit agar tidak menyebar ke lingkungan di sekitarnya. Kalaupun tetap berkeinginan dirawat di rumah, dibutuhkan ruang khusus tersendiri yang ada ventilasinya dan cahaya matahari harus bisa masuk ke dalamnya. Ventilasi bertujuan agar udara yang keluar dari nafas penderita TBC bisa keluar dari ruangan, sedangkan sinar matahari dapat membunuh bakteri tubercullosis. 

Sangat direkomendasikan bagi pengidap TBC untuk berada di daerah-daerah yang jauh dari kebisingan kota dan polusi udara. Misalnya daerah pegunungan atau dataran tinggi. Selain udaranya segar dan pencemaran racunnya mendekati titik nol, biasanya kawasan-kawasan seperti ini memiliki jumlah pemukim yang sedikit sehingga potensi penularan bakteri ini lebih minimal.

Untuk pengobatan medis, para dokter biasanya membaginya dalam dua kategori, yaitu primer dan sekunder. Termasuk kategori primer adalah isoniazid (INH), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin dan Pirazinamid. Umumnya pengidap TBC cenderung sembuh ketika sudah mengkonsumsi obat-obatan ini. Untuk yang kategori sekunder, obat-obat yang direkomendasikan adalah Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin. Semua tergantung pada tingkat stadium yang dideritanya. Jika masih termasuk kategori ringan, tentunya pengobatan sekunder yang menjadi pilihan.

Bagaimana jika belum menderita TBC tapi ingin terhindar dari penyakit ini? Tentunya dibutuhkan imunisasi pada tubuh manusia agar sel-sel dalam badan kita bisa membangun sistem pertahanannya secara alami terhadap bakteri tubercullosis. Semakin lemah daya tahan yang dimiliki seseorang maka semakin mudah bakteri dan virus menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa masyarakat saat ini sudah kembali ke alam (back to nature) dalam menyembuhkan penyakit-penyakit mereka. Obat-obat yang menggunakan bahan kimiawi cenderung mulai ditinggalkan dan berganti dengan pengobatan herbal alami, kecuali jika penyakit tersebut sudah parah dan dibutuhkan penanganan yang cepat. 

Pengobatan kimia, selain membutuhkan biaya yang besar, juga membutuhkan waktu yang lama untuk kesembuhan. Oleh karena itu mencegah penyakit jauh lebih murah ketimbang mengobatinya. Salah satu cara pencegahan alami terhadap TBC adalah dengan mengkonsumsi Transfer Factor, yaitu kumpulan ratusan ribu virus dan bakteri yang diekstrak dalam bentuk tablet, kapsul maupun cairan sehingga lebih ‘bersahabat’ ketimbang jarum suntik. Mirip dengan imunisasi pada balita, hanya saja Transfer Factor memberikan kekebalan pada lebih banyak penyakit dibanding imunisasi biasa. Selain itu, terapi ini sama sekali tidak menimbulkan efek samping berupa demam sebagaimana balita yang cenderung mengalami panas yang tinggi selesai disuntik imun.

Menghindari TBC justru dimulai dengan menjalin ‘persahabatan’ dengan bakteri penyebabnya. Maka biarkan bakteri yang sudah dilemahkan itu masuk dalam tubuh Anda melalui Transfer Factor, sehingga nanti tubuh Anda sendiri yang akan melawannya.

Pengobatan Alami Penyakit TBC atau Tuberkulosis Dengan Transfer Factor

 

Pada awalnya, Transfer Factor sudah ditemukan pada tahun 1949. Ilmuwan yang menemukannya bernama Dr. Sherwood Lawrence. Pada saat bersamaan penicilin sudah ditemukan, Dr. Sherwood Lawrance sedang meneliti pasien tuberkolosis (TBC). Saat itu dia menemukan bahwa sel darah putih pasien tuberkolosis yang sudah sehat dengan pasien tuberkolosis yang masih sakit berbeda. Ada molekul yang tidak dipunyai oleh pasien yang sakit.

Dr. Lawrance akhirnya mencoba untuk memindahkan molekul tersebut kedalam tubuh pasien yang masih sakit. ternyata ketika dipindahkan secara berangsur-angsur pasien tersebut sembuh dari penyakit tuberkolosis. setelah diteliti ternyata molekul yang di pindahkan itu adalah informasi antibodi untuk melawan virus tuberkolosis. atas penemuan nya itu, beliau menamakannya Transfer Factor

 

TRANSFER FACTOR adalah produk terbaik dan tercepat dalam dalam membantu sistem imun melawan bakteri tuberkulosis. Banyak yang telah terbantu menggunakan produk ini karena cara kerjanya yang alami tanpa ada bahan kimiawinya menyebabkan TRANSFER FACTOR aman di konsumsi tanpa ada efek samping ke depannya dibandingkan dengan obat farmasi.

 

perbandingan transferfactor1 Merawat Penderita TBC

Perbandingan Produk Transfer Factor

agen 4life transfer factor 3 Merawat Penderita TBC

 

Dilihat dari segi peningkatan NK sel, ternyata Tranfer Factor adalah produk yang terbaik dalam meningkatkan NK sel sebesar 283% dan 437%. Sangat jauh perbandingannya dengan produk lain. Juga dapat diukur keefektifannya dengan produk lain seperti di bawah ini:

 

perbandingan kapsul transfe Merawat Penderita TBC

Perbandingan 1 Kapsul Transfer Factor Dengan Produk Lainnya

 

Hubungi saya untuk informasi lebih lanjut,

Fadhil

085718684417

08129544 5045

087887951838

266E1B63

 

TERIMA KASIH.

TBC dan Penyebarannya

Pada tulisan terdahulu kita sempat mempelajari bagaimana mencegah TBC dengan murah meriah, yaitu salah satunya adalah olahraga dan makan makanan yang bergizi. Dan bagaimana sebenarnya bakteri ini bisa menyebar sehingga menjadi wabah dan menjangkiti suatu komunitas masyarakat?

Sebagaimana kita ketahui, TBC disebabkan karena infeksi dari bakteri tuberculosis. Penyebarannya melalui batuk dan bersin yang kemudian mengering dalam butiran pasir atau debu atau titik-titik air yang kemudian beterbangan ke udara. Seorang penderita yang batuk berarti telah menyebarkan ribuan bakteri berukuran mikro ke udara yang kemudian dihirup tanpa sengaja sehingga, apabila yang menghirup tersebut memiliki daya tahan tubuh yang lemah, akan membuat dirinya juga terjangkiti penyakit paru-paru ini. Selain udara, medium lain seperti peralatan makan atau pakaian yang dipakai bersama penderita juga menjadi jalan lain bakteri ini udah berpindah tempat dan berkembang biak.

TBC 300x160 TBC dan Penyebarannya

Air dan juga makanan bisa menjadi medium perantara penyebaran bakteri TBC. Salah satunya dari susu segar yang tidak dimasak terlebih dahulu. Sebagian orang mengkonsumsi langsung tanpa proses sterilisasi dulu, padahal kemungkinan adanya bakteri tubercolosis bisa saja terjadi.

Setelah bakteri mampu menginfeksi tubuh dan mulai masuk ke dalam paru-paru, terjadilah perlawanan dari sistem imun yang sudah ada dalam tubuh kita. Melalui pertahanan sel-sel darah putih, sebagian bakteri-bakteri tersebut akan mati. Namun bakteri tuberculosis bukan bakteri biasa. Ia memiliki lapisan pelindung berupa lilin yang membuat sebagian besar tetap hidup dan tidak terpengaruh sel darah putih. Karena ‘tidak mampu’ membendung arus dan mobilisasi besar-besaran dari bakteri tersebut, sel-sel darah putih yang ukurannya lebih besar kemudian membentuk pertahanan baru yang berakibat munculnya benjolan kecil atau disebut tuberkel.

Nah, di dalam benjolan inilah bakteri tersebut akan hidup berbulan-bulan atau mungkin dalam hitungan tahun. Ini yang disebut sedang menderita TBC. Jika dibiarkan, akan terbentuk jaringan parut yang nantinya akan menghalangi aliran darah dan mengganggu fungsi paru-paru penderitanya. Dan yang lebih berbahaya lagi apabila kalsium dan kapur ikut bertumpukan di dalam jaringan-jaringan ini yang bisa berakibat organ-organ tidak berfungsi optimal.

Umumnya dunia kedokteran menguji keberadaan bakteri ini dalam tubuh melalui suntikan tuberculin. Jika setelah disuntik kulit penderita berubah menjadi merah dan meradang, maka orang tersebut positif terkena TBC. Meski demikian, tidak berarti mereka yang kulitnya tidak menimbulkan reaksi seperti itu dianggap negatif. Sebab ada juga bakteri yang tersembunyi dan tidak terdeteksi, meski sebenarnya pasien tersebut terkena penyakit ini. Untuk memastikan, penderita biasanya melakukan pemeriksaan dengan X-Ray (rontgen). Cara ini sangat dianjurkan karena bisa mengetahui kemungkinan penyakit-penyakit lainnya seperti jantung atau kanker paru-paru.

Kesembuhan dan kemampuan bertahan hidup bergantung pada lingkungan orang tersebut. Jika lingkungannya tidak sehat, banyak polusi, tentu saja mempengaruhi proses penyembuhan. Apalagi kalau penderita juga mengkonsumsi makanan yang rendah gizi, cenderung tidak sehat serta bekerja terlalu keras. Ditambah kalau ia juga tidak suka berolahraga, maka mungkin TBC akan menggerogoti dan membunuhnyas secara perlahan-lahan.

Untuk mencegah hal itu, ada baiknya jika tubuh diberi imun yang bisa mempertebal daya tahan tubuh. Tidak saja untuk bakteri TBC, namun juga varian-varian bakteri dan virus lainnya. Terapi Transfer Factor adalah metode baru pengobatan herbal alami dengan mengkonsumsi tablet, kapsul atau jus minuman yang mengandung ratusan ribu bakteri yang telah dilemahkan. Mirip dengan proses imunisasi pada bayi, hanya bedanya Transfer Factor tidak menimbulkan efek samping seperti demam.

Pengobatan Alami Penyakit TBC atau Tuberkulosis Dengan Transfer Factor

 

Pada awalnya, Transfer Factor sudah ditemukan pada tahun 1949. Ilmuwan yang menemukannya bernama Dr. Sherwood Lawrence. Pada saat bersamaan penicilin sudah ditemukan, Dr. Sherwood Lawrance sedang meneliti pasien tuberkolosis (TBC). Saat itu dia menemukan bahwa sel darah putih pasien tuberkolosis yang sudah sehat dengan pasien tuberkolosis yang masih sakit berbeda. Ada molekul yang tidak dipunyai oleh pasien yang sakit.

Dr. Lawrance akhirnya mencoba untuk memindahkan molekul tersebut kedalam tubuh pasien yang masih sakit. ternyata ketika dipindahkan secara berangsur-angsur pasien tersebut sembuh dari penyakit tuberkolosis. setelah diteliti ternyata molekul yang di pindahkan itu adalah informasi antibodi untuk melawan virus tuberkolosis. atas penemuan nya itu, beliau menamakannya Transfer Factor

 

TRANSFER FACTOR adalah produk terbaik dan tercepat dalam dalam membantu sistem imun melawan bakteri tuberkulosis. Banyak yang telah terbantu menggunakan produk ini karena cara kerjanya yang alami tanpa ada bahan kimiawinya menyebabkan TRANSFER FACTOR aman di konsumsi tanpa ada efek samping ke depannya dibandingkan dengan obat farmasi.

 

perbandingan transferfactor1 TBC dan Penyebarannya

Perbandingan Produk Transfer Factor

agen 4life transfer factor 3 TBC dan Penyebarannya

 

Dilihat dari segi peningkatan NK sel, ternyata Tranfer Factor adalah produk yang terbaik dalam meningkatkan NK sel sebesar 283% dan 437%. Sangat jauh perbandingannya dengan produk lain. Juga dapat diukur keefektifannya dengan produk lain seperti di bawah ini:

 

perbandingan kapsul transfe TBC dan Penyebarannya

Perbandingan 1 Kapsul Transfer Factor Dengan Produk Lainnya

 

Hubungi saya untuk informasi lebih lanjut,

Fadhil

085718684417

08129544 5045

087887951838

266E1B63

 

TERIMA KASIH.

TBC dan Gejala Awalnya

Penyakit Tuberculosis atau TBC memang bukan penyakit baru. ’Korban’-nya pun sudah banyak dan bahkan mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Meski tidak selalu mematikan, TBC harus bisa terdeteksi sejak awal agar proses penyembuhannya tidak terlambat. Karena pada dasarnya TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan bukan sesuatu yang menakutkan seperti kanker atau tumor ganas.

tuberculosis 300x81 TBC dan Gejala AwalnyaPenyakit Tuberculosis atau TBC memang bukan penyakit baru. ’Korban’-nya pun sudah banyak dan bahkan mereka adalah orang-orang yang dekat dengan kita. Meski tidak selalu mematikan, TBC harus bisa terdeteksi sejak awal agar proses penyembuhannya tidak terlambat. Karena pada dasarnya TBC adalah penyakit yang bisa disembuhkan dan bukan sesuatu yang menakutkan seperti kanker atau tumor ganas.

Namun TBC adalah penyakit yang bisa menular sehingga menjadi perhatian komunitas dunia, terutama lembaga World Health Organization (WHO) di bawah PBB. Karena minimnya pengetahuan mengenai penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis pada hampir di seluruh negara Dunia Ketiga, tidak heran angka kematian karena TBC masih tinggi. Di Indonesia sendiri, tingkat penderitanya diperkirakan mencapai angka 289 orang per 100 ribu penduduk (prevalensi) dan 189 per 100 ribu penduduk (insidensi). Dan diasumsikan 27 dari 1000 penduduk terancam akan meninggal karena TBC. Data ini didapat dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2011. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa penderita tuberculosis meningkat 8,46 persen dari 744 penderita pada tahun 2010 yang menjadi 807 pada 2011. Di sisi lain, patut juga kita optimis bahwa angka keberhasilan pengobatan TBC tahun 2011 yang lalu mencapai 90 persen lebih.

Untuk mengantisipasi penyakit ini, kita harus mampu mengenali gejala-gejalanya. Biasanya, calon pengidap TBC akan mengalami batuk berdahak sedikitnya selama dua minggu, atau bahkan lebih. Batuk tersebut biasanya bercampur dengan darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun drastis, terjadi penyusutan bobot badan, berkeringat di malam hari meski tidak sedang melakukan aktifitas fisik, dan juga demam lebih dari satu bulan.

Biasanya proses penginfeksian TBC ini berlangsung lama dan membutuhkan waktu berminggu-minggu. Jika tubuh terus mengalami pelemahan, gejalanya semakin lama semakin akut dan barulah penderita menyadari kalau ia mengidap penyakit ini. Selain paru-paru, bakteri tuberculosis bisa menginfeksi organ-organ lain yang tidak berhubungan langsung dengan pernafasan, seperti kelenjar getah bening, sendi, tulang, dan juga ginjal.

TBC sebenarnya bisa dicegah, salah satunya adalah dengan mengkonsumsi makanan yang bergizi sehingga meningkatkan daya tahan tubuh. Kemudian jangan meludah sembarang tempat, terutama di tempat yang lembab dan tidak terkena sinar matahari. Kalaupun terpaksa harus mengeluarkan dahak atau ludah, cari tempat yang terkena sinar matahari atau bisa juga di tempat sampah.

Memakai masker di area padat publik seperti kereta, bis, angkot dan lainnya sangat dianjurkan agar tidak terjadi penularan virus atau bakteri melalui batuk dan bersin orang lain. Apalagi kalau seseorang sudah terdeteksi TBC, maka menjaga jarak aman mutlak dibutuhkan. Dan kalau pengidapnya adalah anggota keluarga, jemurlah tempat tidur/kasurnya di bawah sinar matahari karena bakteri akan mati bila terkena sinar ultraviolet. Dan jangan lupa juga untuk sering berolahraga karena tubuh yang terbiasa melakukan aktifitas fisik secara rutin dan terprogram lebih kuat daya tahannya dibanding mereka yang jarang berolahraga.

Selain itu, bisa juga dengan mengkonsumsi Transfer Factor sebagai alternatif pengobatan penderita TBC. Dengan ekstrak lebih dari 200 ribu bakteri dan virus yang sudah dilemahkan, tubuh akan membangun benteng pertahanannya sendiri secara otomatis melalui terapi ini. Berbeda dengan imunisasi bayi yang menyebabkan demam, proses imunisasi dengan Transfer Factor ini sama sekali tidak membuat demam. Aman untuk orang dewasa yang banyak memiliki mobilitas di tempat kerja atau kuliah.

 

Pengobatan Alami Penyakit TBC atau Tuberkulosis Dengan Transfer Factor

 

Pada awalnya, Transfer Factor sudah ditemukan pada tahun 1949. Ilmuwan yang menemukannya bernama Dr. Sherwood Lawrence. Pada saat bersamaan penicilin sudah ditemukan, Dr. Sherwood Lawrance sedang meneliti pasien tuberkolosis (TBC). Saat itu dia menemukan bahwa sel darah putih pasien tuberkolosis yang sudah sehat dengan pasien tuberkolosis yang masih sakit berbeda. Ada molekul yang tidak dipunyai oleh pasien yang sakit.

Dr. Lawrance akhirnya mencoba untuk memindahkan molekul tersebut kedalam tubuh pasien yang masih sakit. ternyata ketika dipindahkan secara berangsur-angsur pasien tersebut sembuh dari penyakit tuberkolosis. setelah diteliti ternyata molekul yang di pindahkan itu adalah informasi antibodi untuk melawan virus tuberkolosis. atas penemuan nya itu, beliau menamakannya Transfer Factor

 

TRANSFER FACTOR adalah produk terbaik dan tercepat dalam dalam membantu sistem imun melawan bakteri tuberkulosis. Banyak yang telah terbantu menggunakan produk ini karena cara kerjanya yang alami tanpa ada bahan kimiawinya menyebabkan TRANSFER FACTOR aman di konsumsi tanpa ada efek samping ke depannya dibandingkan dengan obat farmasi.

 

perbandingan transferfactor1 TBC dan Gejala Awalnya

Perbandingan Produk Transfer Factor

agen 4life transfer factor 3 TBC dan Gejala Awalnya

 

Dilihat dari segi peningkatan NK sel, ternyata Tranfer Factor adalah produk yang terbaik dalam meningkatkan NK sel sebesar 283% dan 437%. Sangat jauh perbandingannya dengan produk lain. Juga dapat diukur keefektifannya dengan produk lain seperti di bawah ini:

 

perbandingan kapsul transfe TBC dan Gejala Awalnya

Perbandingan 1 Kapsul Transfer Factor Dengan Produk Lainnya

 

Hubungi saya untuk informasi lebih lanjut,

Fadhil

085718684417

08129544 5045

087887951838

266E1B63

 

TERIMA KASIH.

Meneliti Lebih Jauh tentang Obat Kanker, Asam Urat, TBC dan Asma

Menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan mental adalah idaman setiap orang. Kita mau melakukan apapun dengan tujuan agar kita bisa tetap sehat dan bahagia sehingga kita bisa menikmati kehidupan ini dengan tenang. Akan tetapi bahaya bisa terjadi di mana pun di sekitar kita. Penyakit yang mematikan seperti kanker telah menjadi momok. Dan fakta bahwa belum ada obat kanker yang bisa benar-benar mengobati tanpa memberikan efek samping, bisa menjadi hal yang sangat menakutkan. Banyak obat lain yang juga masih berusaha dicari formulanya oleh para peneliti seperti obat asam urat yang merupakan penyakit para lansia dan juga obat tbc yang penyakitnya disebarkan oleh virus. Terobosan dalan mengobati asma juga sampai saat ini belum ditemukan formula yang tepat.

Tingkatan kanker otak sendiri bisa digolongkan menjadi primer dan sekunder. Tingkatan primer biasanya baru menyerang satu organ utama dan pada tingkatan sekunder, sudah terjadi kanker ke organ yang lain. Baik untuk kedua tingkatan diperlukan obat kanker yang sesuai sebagai alat untuk melawan penyakit tersebut. Beda lagi dengan kasus asam urat, karena penyakit ini menyerang bagian syaraf, maka untuk tindakan pencegahan, bagi siapapun ada baiknya untuk mengkonsumsi obat asam urat secara berkala. Tidak seperti lama waktu yang diperlukan untuk mengobati asma, setiap penderita TBC diwajibkan meminum obat tbc minimal 6 selama 6 bulan, karena virus ini bisa mempunyai daya tahan yang cukup kuat, sehingga memang dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyembuhkannya.

testimoni 4life 2 300x225 Meneliti Lebih Jauh tentang Obat Kanker, Asam Urat, TBC dan Asma

Penelitian produk 4Life Transfer Factor Terhadap Penyakit Kanker

Untuk tingkat keganasan, kanker otak dibagi menjadi dua yakni tumor atau kanker jinak dan kanker ganas. Masa pertumbuhan kanker jinak tergolong perlahan yaitu sekitar 10 tahun atau lebih, sedang kanker ganas bisa butuh setahun atau dua tahun. Dan dosis obat kanker yang diberikan pun berbeda sesuai dengan tingkat keganasannya. Untuk penyakit yang lebih mudah, seperti asam urat, obat asam urat memiliki dosis yang hampir sama untuk setiap penderitanya. Tidak seperti obat tbcyang memiliki dosis tertentu, dan juga tergantung pada usia penderita.  Untuk mengobati asma, kurang lebih sama dengan cara perawatan pada penyakit asam urat, yaitu dengan dosis yang sama bagi setiap penderita. Bahkan untuk perawatan mengobati asma ini, penderita hanya butuh mengkonsumsi obat di saat penyakitnya kambuh saja.

kekuatan perbandingan trans Meneliti Lebih Jauh tentang Obat Kanker, Asam Urat, TBC dan Asma

perbandingan produk transfer factor dengan yang lain

Menurut penelitian banyak ilmuwan, telah dicurigai bahwa sebab utama dari penyakit yang sekarang ini banyak bermunculan adalah zat radikal bebas yang sudah berjamuran di sekitar kita. Bahkan pengobatan kimiawi seperti obat kanker yang dijual di apotek, telah banyak berisi kandungan sintetis yang sangat berbahaya untuk jangka panjang. Selain itu penyebaran obat herbal dengan standar yang masih dipertanyakan seperti obat asam urat yang banyak dijual di pasar tradisional juga menjadi pemicu penyakit baru yang langka. Oleh karena itu, pemerintah mencoba menjamin standar kesehatan publik dengan mengadakan obat tbc gratis yang bisa dilakukan di rumah sakit pemerintah atau puskesma. Akan tetapi, hal semacam itu hanyalah untuk TBC saja, karena perawatan untuk mengobati asma masih harus menggunakan biaya sendiri dan metode yang dilakukam juga masih banyak menggunakan bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan jangka panjang.

 Untuk segala permasalahan tersebut, terdapat sebuah solusi yang sangat ampuh. Produk ini disebut juga dengan 4life transfer factor yang bisa digunakan sebagai obat kanker dan obat asam urat. Untuk penderita yang sedang mencari solusi lain yang lebih aman dan tidak mempunyai efek samping, 4life transfer factor juga sangat mujarab untuk digunakan sebagai obat tbc. Bahkan, dengan kandungan ekstraksi khusus yang dipatenkan dari kolostrum sapi dan kolostrum kuning telurnya, produk ini juga dapat mengobati asma. Menteri Kesehatan Rusia telah mengakui keberadaan produk ini sebagai obat kanker dan obat asam urat, bahkan telah menganjurkan semua rumah sakit di Rusia untuk menggunakan obat ini. Dengan kelebihan transferfactor di dalam produk ini, 4life transfer factor tidak hanya bisa membunuh bakteri di dalam tubuh, juga bisa membantu system imun untuk melawan virus. Oleh karena itu beberapa institusi kesehatan seperti klinik dan rumah sakit menggunakan produk ini untuk dijadikan pendamping obat tbc.